ARTIKEL
Artikel
Pelatihan
Artikel Terbaru
KELUHAN PELANGGAN ADALAH HADIAH
(COMPLAIN IS A GIFT)
Seperti kita tahu selama ini bahwa tujuan dari semua perusahaan adalah kepuasan pelanggan baik itu terhadap produk maupun jasa yang mereka tawarkan. Akan tetapi dalam perjalanan nya tentu akan ditemui banyak ragam tipe pelanggan dengan membawa kriteria nya masing-masing dalam memenuhi kebutuhan mereka, sebab pada dasarnya tingkat kepuasan pelanggan ditentukan dari seberapa besar Manfaat yang dirasakan dan dipenuhi dari produk dan jasa yang telah diberikan. Sebab kita tahu hal yang paling esensial dari setiap transaksi ialah konsumen mendapatkan manfaat sebagai pengganti biaya yang telah dikeluarkan. Semakin besar manfaat yang dirasakan, maka semakin besar tingkat kepuasan yang akan dirasakan oleh konsumen.
Tantangan nya, dalam proses pra transaksi biasanya pemilik produk maupun jasa akan memberikan janji-janji atas kualitas dan kepuasan yang akan didapatkan oleh konsumen saat membeli atau memakai produk/jasa mereka, faktanya seringkali ditemukan ketidak sesuaian antara janji-janji penjual dengan kriteria yang diharapkan oleh para konsumen, sehingga hal ini merupakan salah satu sumber ketidak puasan pelanggan atas produk dan jasa yang telah mereka bayar.
Ketidakpuasan konsumen ini bisa di ekspresikan menjadi berbagai keluhan dalam bentuk komunikasi, ada yang tertutup dan yang terbuka. Untuk Keluhan tertutup, fakta nya adalah 96% konsumen hanya diam, dan 91% diantaranya mereka tidak akan mau membeli atau menggunakan produk dan jasa yang telah mereka rasakan. Sedangkan pada kasus keluhan terbuka, hanya 4% konsumen yang mau menyampaikan keluhan nya kepada penyedia jasa dan produk yang telah mereka nikmati. Jadi dari fakta tersebut, terlihat potensi pengusaha akan kehilangan pelanggan adalah sebesar 91%, dan ini sama sekali tidak bisa kita jadikan bahan evaluasi bagi improvement produk dan jasa perusahaan kedepan nya, sebab banyak perusahaan yang mengasumsikan, tidak ada keluhan berarti semuanya baik-baik saja.
Bagaimana perihalnya pada situasi perusahaan menghadapi 4% konsumen yang mau menyampaikan keluhan nya ? Pada banyak kasus di lapangan, masih banyak perusahaan yang menanggapi Keluhan Pelanggan dengan sikap negatif (Old paradigm), misalnya sebagai berikut ;
- Keluhan pelanggan itu menyakitkan
- Keluhan pelanggan itu merugikan perusahaan
- Keluhan pelanggan itu mengerikan
- Keluhan pelanggan itu buang waktu
- Keluhan pelanggan itu tidak mesti ditanggapi serius
- Dan lain sebagai nya
Pertanyaan nya apakah sikap demikian bisa dibenarkan ?. Pastinya sikap-sikap negatif seperti disebut diatas menggambarkan ketidaksiapan perusahaan untuk mau bertumbuh dan berkembang pada masa depan. Sebab sikap demikian tentu akan membuat para pelanggan semakin kecewa dan yang mesti kita ingat adalah bentuk kekecewaan konsumen tidak bisa kita kontrol, bisa berupa keluhan tertulis, lisan bahkan pada beberapa kasus bisa menyeret perusahaan kedalam ranah hukum. Ketidak pekaan perusahaan dalam menyikapi dan bertindak pada keluhan pelanggan, bisa menjadi awal kemunduran perusahaan itu sendiri.
Di era modern dengan kompetisi yang makin ketat dan kebutuhan konsumen akan pelayanan semakin tinggi, sudah banyak manajemen perusahaan yang menerapkan paradigma baru (New Paradigm) untuk mau lebih menerima dan terbuka atas kritik, masukkan dan saran dari konsumen mereka. Contoh paradigma baru dalam menerima masukkan dari konsumen antara lain adalah :
- Keluhan konsumen adalah bentuk kepedulian (Care)
- Keluhan pelanggan adalah baik untuk pertumbuhan perusahaan
- Keluhan pelanggan adalah indikator bahwa ada sistem yang harus dibenahi
- Keluhan pelanggan harus dihadapi dengan pikiran terbuka dan senyum
- Keluhan pelanggan membuka peluang untuk melakukan inovasi
- Dll
Tindak lanjut dari paradigma baru tersebut ialah manajemen perusahaan malah membuka kotak ide dan saran atau hotline sebagai jalur komunikasi antar konsumen dengan pelanggan. Dengan kata lain setiap masukkan dari konsumen merupakan hadiah (Gift) untuk menjaga loyalitas konsumen dan membuka peluang untuk terus bertumbuh (Continious Improvement) bagi perusahaan.
Salah satu Langkah penerapan paradigma baru dalam menghadapi keluhan konsumen secara langsung ialah dengan membuat Complaint System Management (CSM), disini bisa dibagi kedalam 3 bagian, yaitu :
- People
- System
- Tools
Mari kita coba bahas satu persatu CSM dimaksud ;
- People (Orang)
- Semua anggota perusahaan yang terkait mesti mendapatkan arahan bahkan pelatihan untuk mau dan mampu menghadapi dan menangani keluhan konsumen hingga tuntas termasuk pemilik perusahaan.
- Salah satu contoh langkah-langkah yang mesti dilakukan oleh karyawan saat menerima keluhan konsumen (Complaint Handling) adalah sebagai berikut :
- Fleksibel (Lentur)
- Melihat dari sudut pandang konsumen
- Respon cepat atau tanggap
- Berusaha membantu secara optimal (Can Do Spirit)
- Komunikasi kepada pengambil keputusan (Authority)
- Pastikan konsumen merasa masalah nya tuntas
- Sampaikan Terimakasih kita kepada konsumen
- Dengan melakukan hal ini, perusahaan bisa memastikan semua pelanggan yang mengajukan keluhan merasa di hargai dan bisa mendapatkan solusi terbaik atas masalah yang mereka rasakan terhadap produk dan jasa yang telah mereka bayar.
- System (Aturan)
- Dalam hal ini managemen perusahaan membuat sebuah sistem yang digarap sungguh-sungguh untuk menghadapi berbagai keluhan konsumen yang masuk. Ada duaperspective yang bisa digunakan, yaitu :
- External Perspective
- Mengembangkan informasi dan sumber data spesifik, seperti ; lembar fakta, poster, informasi terjemahan, dan brosur, serta lakukan Publikasi Reguler berupa buletin, pemberitahuan email dan media lain nya.
- Internal Perspective
- Menyusun kebijakan dan penanganan pengaduan yang dijabarkan secara jelas dan mudah dipahami oleh publik.
- Sistem penanganan pengaduan standar berbasis Otoritas.
- Mengidentifikasi, Mengelompokkan & Menganalisis jenis-jenis Pengaduan untuk strategi bisnis ke depan.
- External Perspective
- Dengan melakukan pengembangan sistem penanganan keluhan konsumen ini, langkah awal nya bisa membuat aturan resmi dan terarah kepada semua divisi terkait untuk menyelesaikan nya dengan tuntas.
- Dalam hal ini managemen perusahaan membuat sebuah sistem yang digarap sungguh-sungguh untuk menghadapi berbagai keluhan konsumen yang masuk. Ada duaperspective yang bisa digunakan, yaitu :
- Tools (Peralatan)
- Untuk mendukung penangan keluhan pelanggan yang paripurna, tentu CSM harus dilangkapi dengan sarana dan prasarana yang juga baik, contoh nya antara lain :
- Ada petugas khusus untuk menangani keluhan pelanggan
- Kartu/lembar komentar konsumen
- Telephone
- Hotline – SMS
- Mail – Email
- Link dari website
- Blogs dan Chat rooms
- Dll
- Apalagi di era tehnologi siber saat ini, tentu makin banyak saluran komunikasi yang bisa dibuat untuk menyerap semua keluhan konsumen yang bisa mulai kita rubah mindset nya menjadi aspirasi konsumen.
- Untuk mendukung penangan keluhan pelanggan yang paripurna, tentu CSM harus dilangkapi dengan sarana dan prasarana yang juga baik, contoh nya antara lain :
Dengan jalan merubah paradigma, menyiapkan sistem dan menyediakan saran yang baik dalam tata kelola penangan keluhan pelanggan, niscaya perusahaan bisa menjadi pemenang dalam kompetisi memenangkan hati pelanggan untuk meneruskan pertumbuhan perusahaan kedepan nya.
Tulisan ini juga dimuat pada Kompasiana (https://www.kompasiana.com/ogansyah/68e48930c925c409a734e543/keluhan-pelanggan-adalah-hadiah ).
#CustomerService, #PelayananPelanggan, #LayananPelanggan, #KeluhanPelanggan, #ComplaintHandling, #ServiceExcellence, #ServiceExcellent, #PelatihanCustomerService, #Pelatihan, #Training,
“POKOK NYA SAYA NGGAK MAU TAU!”
Banyak peserta pelatihan Kepemimpinan di kelas kami yang sering bercerita bahwa di kantor mereka sering sekali pimpinan mengeluarkan pernyataan “Pokoknya saya nggak mau tau, ya!” dalam suatu keadaan yang menuntut penyelesaian suatu tugas atau pekerjaan. Dan hal tersebut terjadi berulang kali pada kesempatan yang berbeda. Maka dampaknya adalah timbul Persepsi dalam pikiran anggota team bahwa sang pimpinan seakan tidak mau mengerti apa dan bagaimana proses kerja yang harus dijalankan oleh seluruh anggota teamnya untuk mencapai goals yang di maksud. Jadi pertanyaannya adalah, bagaimana sebaiknya gaya komunikasi pimpinan sebagai pengganti pernyataan di atas ?
Menjadi seorang pemimpin selain kita memiliki visi dan misi yang jelas dalam menjalankan tugas, pemimpin juga harus memiliki strategi untuk mencapai visi dan misi yang diembannya dalam setiap tugas. Salah satu strategi yang dapat membangun saling pengertian antar anggota team adalah kemampuan berkomunikasi yang baik dan persuasive. Dimana komunikasi persuasive adalah proses komunikasi yang diarahkan untuk mempengaruhi pikiran, sikap dan perilaku anggota team untuk mau mengikuti dan bertindak serta berfikir sesuai dengan arah yang dimaksud oleh pemimpinnya.
Menurut Aristoteles ada tiga elemen yang dapat dipengaruhi dalam menggunakan komunikasi persuasive, yaitu :
- Ethos (Kredibilitas), bahwa sang penyampai pesan hendaknya adalah orang yang dipersepsikan memiliki kredibilitas baik selama ini, terutama di dalam persepsi anggota team-nya
- Logos (Logika)
Sang penyampai pesan mampu menyampaikan argument yang logis, rasional dan didukung oleh bukti data yang akurat, sehingga penerima pesan bisa mengerti dan memahami pesan yang disampaikan
- Pathos (Emosi)
Sang penyampai pesan hendaknya mampu menggunakan kata atau kalimat yang menyentuh sisi emosional dari pendengarnya, hingga tercipta rasa keterlibatan secara emosi secara lebih dalam. Sebab manusia bukan hanya mahluk logis, namun sekaligus adalah mahluk emosional.
Mari coba kita uji elemen-elemen dari Aristoteles ini dengan statement “Pokok nya saya enggak mau tau, ya!”.
- Secara Ethos, sang penyampai pesan terkesan tidak punya kredibilitas yang positif di mata anggota team, bahkan bisa saja dianggap egois.
- Secara Logos, sang penyampai pesan tidak mengemukakan argument atau data yang logis untuk mendukung pencapaian goals yang dimaksud.
- Secara Pathos, sang penyampai pesan “tidak mau melibatkan diri” secara emosi ke dalam team-nya. Ia seolah ‘berdiri jauh’ dari team nya secara emosional.
Kadang keluar pernyataan balasan dari sub-ordinate seperti ini, “Kalau lo enggak mau tau, terus kapan mau dengerin masalah kita dilapangan?, mau tinggal enak nya saja.”
Dari hasil ujian singkat tersebut bisa kita lihat bahwa pimpinan yang kerap mengemukakan pernyataan seperti disebut di atas tidak akan mendapatkan dukungan (support) sepenuhnya dari anggota team-nya. Dampak jangka panjangnya adalah anggota team tidak bisa mencapai performa optimal dalam melakukan tugas, bekerja setengah hati dan menjadi tidak produktif.
Lalu bagaimana sebaiknya pernyataan yang mestinya disampaikan oleh seorang pemimpin kepada anggota team-nya dalam situasi yang sama dengan di atas ?
Bila kita gunakan prinsip Aristoteles dalam Komunikasi persuasive, dapat kita jabarkan menjadi alternatif pernyataan seperti ini:
- Ethos: “Teman-teman semua, kita dipercaya oleh manajemen untuk menyelesaikan pekerjaan ini, mari kita tunaikan dengan baik bersama-sama agar kita tetap menjadi professional yang bermartabat”, dll.
- Logos: “Tugas seperti ini pernah kita kerjakan bersama dengan sukses, dari data dan sumber daya yang kita miliki, kita yakin kita bisa kerjakan dengan lebih baik”, dll
- Pathos: “Saya mendampingi teman-teman dalam proses penyelesaian tugas ini, segera komunikasikan dengan saya bila ada kendala yang terjadi untuk kita carikan Solusi Bersama-sama”, dll.
Bagaimana menurut pendapat sahabat belajar bila kita bandingkan pernyataan awal yang ndak mau tau, dengan penyataan yang kami usulkan untuk disampaikan oleh seorang pemimpin kepada anggota team-nya? Lebih nyaman yang mana?
Seni berkomunikasi adalah salah satu kunci sukses seorang Pemimpin dalam menjalankan tugas-tugas dengan baik. Dengan menguasai tehnik komunikasi persuasive yang baik, maka akan membuat kita menjadi pribadi yang mudah di ‘terima’ oleh pimpinan perusahaan maupun rekan kerja dan anggota team.
Tulisan ini juga dimuat pada Kompasiana (https://www.kompasiana.com/ogansyah/68e123a3ed641534c61e6732/pokok-nya-saya-enggak-mau-tau ).
#KomunikasiSecaraEfektif, #KeterampilanBerkomunikasi, #KeterampilanKomunikasi, #EffectiveCommunication, #Pelatihan, #Training, #SoftSkill, #LifeSkills, #LeadershipTraining, #PelatihanKepemimpinan, #CommunicationSkills, #BerkomunikasiSecaraEfektif,

