Banyak peserta pelatihan Kepemimpinan di kelas kami yang sering bercerita bahwa di kantor mereka sering sekali pimpinan mengeluarkan pernyataan “Pokoknya saya nggak mau tau, ya!” dalam suatu keadaan yang menuntut penyelesaian suatu tugas atau pekerjaan. Dan hal tersebut terjadi berulang kali pada kesempatan yang berbeda. Maka dampaknya adalah timbul Persepsi dalam pikiran anggota team bahwa sang pimpinan seakan tidak mau mengerti apa dan bagaimana proses kerja yang harus dijalankan oleh seluruh anggota teamnya untuk mencapai goals yang di maksud. Jadi pertanyaannya adalah, bagaimana sebaiknya gaya komunikasi pimpinan sebagai pengganti pernyataan di atas ?
Menjadi seorang pemimpin selain kita memiliki visi dan misi yang jelas dalam menjalankan tugas, pemimpin juga harus memiliki strategi untuk mencapai visi dan misi yang diembannya dalam setiap tugas. Salah satu strategi yang dapat membangun saling pengertian antar anggota team adalah kemampuan berkomunikasi yang baik dan persuasive. Dimana komunikasi persuasive adalah proses komunikasi yang diarahkan untuk mempengaruhi pikiran, sikap dan perilaku anggota team untuk mau mengikuti dan bertindak serta berfikir sesuai dengan arah yang dimaksud oleh pemimpinnya.
Menurut Aristoteles ada tiga elemen yang dapat dipengaruhi dalam menggunakan komunikasi persuasive, yaitu :
- Ethos (Kredibilitas), bahwa sang penyampai pesan hendaknya adalah orang yang dipersepsikan memiliki kredibilitas baik selama ini, terutama di dalam persepsi anggota team-nya
- Logos (Logika)
Sang penyampai pesan mampu menyampaikan argument yang logis, rasional dan didukung oleh bukti data yang akurat, sehingga penerima pesan bisa mengerti dan memahami pesan yang disampaikan
- Pathos (Emosi)
Sang penyampai pesan hendaknya mampu menggunakan kata atau kalimat yang menyentuh sisi emosional dari pendengarnya, hingga tercipta rasa keterlibatan secara emosi secara lebih dalam. Sebab manusia bukan hanya mahluk logis, namun sekaligus adalah mahluk emosional.
Mari coba kita uji elemen-elemen dari Aristoteles ini dengan statement “Pokok nya saya enggak mau tau, ya!”.
- Secara Ethos, sang penyampai pesan terkesan tidak punya kredibilitas yang positif di mata anggota team, bahkan bisa saja dianggap egois.
- Secara Logos, sang penyampai pesan tidak mengemukakan argument atau data yang logis untuk mendukung pencapaian goals yang dimaksud.
- Secara Pathos, sang penyampai pesan “tidak mau melibatkan diri” secara emosi ke dalam team-nya. Ia seolah ‘berdiri jauh’ dari team nya secara emosional.
Kadang keluar pernyataan balasan dari sub-ordinate seperti ini, “Kalau lo enggak mau tau, terus kapan mau dengerin masalah kita dilapangan?, mau tinggal enak nya saja.”
Dari hasil ujian singkat tersebut bisa kita lihat bahwa pimpinan yang kerap mengemukakan pernyataan seperti disebut di atas tidak akan mendapatkan dukungan (support) sepenuhnya dari anggota team-nya. Dampak jangka panjangnya adalah anggota team tidak bisa mencapai performa optimal dalam melakukan tugas, bekerja setengah hati dan menjadi tidak produktif.
Lalu bagaimana sebaiknya pernyataan yang mestinya disampaikan oleh seorang pemimpin kepada anggota team-nya dalam situasi yang sama dengan di atas ?
Bila kita gunakan prinsip Aristoteles dalam Komunikasi persuasive, dapat kita jabarkan menjadi alternatif pernyataan seperti ini:
- Ethos: “Teman-teman semua, kita dipercaya oleh manajemen untuk menyelesaikan pekerjaan ini, mari kita tunaikan dengan baik bersama-sama agar kita tetap menjadi professional yang bermartabat”, dll.
- Logos: “Tugas seperti ini pernah kita kerjakan bersama dengan sukses, dari data dan sumber daya yang kita miliki, kita yakin kita bisa kerjakan dengan lebih baik”, dll
- Pathos: “Saya mendampingi teman-teman dalam proses penyelesaian tugas ini, segera komunikasikan dengan saya bila ada kendala yang terjadi untuk kita carikan Solusi Bersama-sama”, dll.
Bagaimana menurut pendapat sahabat belajar bila kita bandingkan pernyataan awal yang ndak mau tau, dengan penyataan yang kami usulkan untuk disampaikan oleh seorang pemimpin kepada anggota team-nya? Lebih nyaman yang mana?
Seni berkomunikasi adalah salah satu kunci sukses seorang Pemimpin dalam menjalankan tugas-tugas dengan baik. Dengan menguasai tehnik komunikasi persuasive yang baik, maka akan membuat kita menjadi pribadi yang mudah di ‘terima’ oleh pimpinan perusahaan maupun rekan kerja dan anggota team.
Tulisan ini juga dimuat pada Kompasiana (https://www.kompasiana.com/ogansyah/68e123a3ed641534c61e6732/pokok-nya-saya-enggak-mau-tau ).
#KomunikasiSecaraEfektif, #KeterampilanBerkomunikasi, #KeterampilanKomunikasi, #EffectiveCommunication, #Pelatihan, #Training, #SoftSkill, #LifeSkills, #LeadershipTraining, #PelatihanKepemimpinan, #CommunicationSkills, #BerkomunikasiSecaraEfektif,


