Dalam suatu sesi tanya jawab pada kelas pelatihan, salah seorang peserta menceritakan bahwa leader yang saat ini bertugas dalam team mereka adalah seorang leader yang tidak pernah marah-marah walaupun ada anggota team yang salah atau tidak melakukan pekerjaan sesuai aturan yang ditetapkan Perusahaan. Suasana kerja memang terlihat tenang di permukaan karena tidak ada konflik antara pimpinan dengan anggotanya, namun hal yang dirasakan oleh sahabat belajar kami tersebut adalah, sang pimpinan (leader) di maksud tidak mendapat respek dari seluruh anggota team, terbukti dengan berulangnya kejadian pelanggaran atau kesalahan dalam menjalankan pekerjaan yang menjadi salah satu penghambat pencapaian target produksi yang telah ditetapkan oleh manajemen. Pertanyaannya adalah: Apakah seorang leader harus marah-marah saat melihat ketidaksesuaian pekerjaan atau perilaku anggota team-nya?
Situasi seperti ini kerap kita temui saat saya masih menjadi professional di sebuah Perusahaan multi nasional dan banyak juga pertanyaan serupa yang jadi bahan diskusi dalam sebuah kelas pelatihan Supervisor dan Leadership. Sekarang bagaimana sikap semestinya yang dilakukan oleh seorang pimpinan saat menghadapi situasi yang diceritakan di atas? Apakah leader perlu marah-marah kepada anggota team-nya setiap ada ketidaksesuaian kriteria saat bekerja?
Menurut pendapat saya berdasarkan pengalaman dan literasi yang saya pelajari, seorang leader tidak mesti memimpin dengan gaya marah-marah kepada team-nya saat ada hal yang tidak sesuai dalam pekerjaan, namun melakukan pembiaran (permissive) pada setiap kejadian yang menghambat pekerjaan team-nya, itu juga akan berdampak negative kepada sang leader itu sendiri, seperti tidak mendapat respek dari sub-ordinate, kinerja team tidak optimal, penilaian negative atas kinerja dari manajemen dan lain-lainnya.
Salah satu kualitas yang dibutuhkan saat menjadi leader adalah keberanian (courage) saat melihat perilaku atau kinerja yang tidak sesuai aturan atau SOP, ada tools yang bisa digunakan oleh seorang leaders saat menyikapi peristiwa dimaksud yaitu dengan menjalankan program Coaching dan Counseling. Dimana secara sederhana pengertian Coaching adalah program yang dilaksanakan untuk mengukur, memperbaiki dan komunikasi kepada sub-ordinate dalam penyelesaian pekerjaan yang bersifat tehnis, seperti menjalankan mesin, membuat laporan, mencampur bahan dll. Sedang Counseling secara sederhana adalah sebuah proses yang dilakukan seorang leader saat melihat ketidaksesuaian kerja anggota team yang disebabkan oleh faktor non teknis, seperti: stress, masalah keluarga, hubungan kerja dengan anggota team lainnya dll.
Untuk program Coaching dapat dilakukan kapan saja dan di area kerja secara langsung saat melihat kerja anggota yang tidak sesuai, lakukan komunikasi persuasive dengan mengedapankan kalimat tanya kepada sub-ordinate dimaksud dengan berupa kalimat tanya baik berupa Open Probe (pertanyaan terbuka) ataupun Close Probe (pertanyaan tertutup). Hal ini baik dilakukan untuk membangkitkan critical thinking dari sub-ordinate hingga problem solving yang bersumber dari pikiran sang karyawan sendiri. Sedangkan proses Counseling lebih harus di lakukan persiapan lebih detil dan terjadwal, sebab proses ini mesti dilakukan di tempat khusus dan dilakukan secara personal-touch. Misalnya sepakati dulu dengan sub-ordinate mengenai rencana Counseling, tentukan waktu dan tempatnya serta hal-hal yang mesti disiapkan jika perlu. Proses nya hampir sama dengan Coaching, kita lakukan urutan proses nya dimulai dengan Opening dan seterusnya hingga tercapai Commitment (OCDAC), penting harus dijaga adalah gunakan EEISS (Esteem, Empathy, Involve, Share & Support) selama proses Counseling berlangsung.
Kesalahan kecil namun berdampak besar saat leader melakukan Coaching & Counseling adalah sang leader tidak mampu menahan diri untuk lebih banyaktelling daripada bertanya. Hingga program Coaching dan Counseling berubah menjadi program ‘mentoring’, dimana dalam situasi ini sang leader lebih banyak bicara dibandingkan mendengar dan mengarahkan, sehingga akar permasalahan tidak terlalu terdeteksi dan proses penyelesaian masalah dari diri sang karyawan tidak terjadi.
Demikian sekilas pembahasan mengenai teknik yang sebaiknya dilakukan oleh seorang Leader dalam menyelesaikan masalah pada anggota timnya tanpa harus marah-marah apalagi hanya bersikap pasif belaka.
Tulisan ini juga dimuat pada Kompasiana (https://www.kompasiana.com/ogansyah/68d9fd49ed6415549b253d66/apakah-menjadi-leader-harus-marah-marah ).
#Leadership, #Kepemimpinan, #Coaching, #Counseling, #CoachingAndCounseling, #CriticalThinking, #ProblemSolving, #PelatihanKepemimpinan, #CoachingTraining, #CounselingTraining, #Leader, #Pelatihan, #Training,


